Selasa, 01 November 2011

21.37 - No comments

Askep Sectio Caesaria


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sectio caesaria merupakan suatu pembedahan untuk melahirkan janin lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus persalinan buatan, sehingga janin dilahirkan melalui perut dan dinding perut dan dinding rahim agar anak lahir dengan keadaan utuh dan sehat.
Kesehatan ibu sangat ditentukan oleh status kesehatan jiwanya, oleh karena itu jiwa ibu perlu mendapat perhatian terutama ibu yang mengalami trauma setelah mengalami proses persalinan. Kesehatan jiwa ibu yang terganggu akan sangat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan keluarganya. Berbagai masalah psikologis yang dialami ibu bersalin dirumah sakit sangat memerlukan perhatian dan perawatan yang optimal dari seorang perawat atau bidan dan keluarganya. Maka menjadi sangat peting peran perawat dan dukungan keluarga dalam membantu ibu untuk beradaptasi dengan perubahan psikis setelah melahirkan , terutama yang mengalami stress pasca trauma akibat prosedur pertolongan persalinan dirumah sakit.
Sussman (2000), mengatakan pengalaman melahirkan adalah suatu masa krisis di mana persalinan adalah saat menegangkan dan mencemaskan bagi wanita dan keluarga, terutama persalinan dengan tindakan bedah atau section caesari. Sejumlah 8%-12% wanita tidak dapat menyesuaikan peran menjadi orang tua dan menjadi sangat tertekan sehingga mencari bantuan tenaga kesehatan. Melahirkan merupakan kejadian hidup yang sangat berarti bagi ibu, demikian juga tidak kalah pentingnya dengan perubahan peran menjadi orang tua.
Saat ini kemajuan pesat dalam tehnik operasi, anestesi, penyediaan cairan dan darah serta penyediaan antibiotik menyebabkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan janin menurun.
Angka kematian ibu pada rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000. Janin yang ditolong secara sectio caesaria sangat tergantung dari keadaan janin sebelum dilakukan operasi. Menurut data dari negara  negara dengan pengawasan antenatal yang baik dari fasilitas neonatal yang sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4 – 7 % (Rustam, 1992).
B.      Tujuan Pembelajaran
a.       Tujuan umum
Mahasiswa mampu memahami dan membuat asuhan keperawatan ibu hamil post partum dengan seksio sesaria
b.      Tujuan khusus
1.      Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengertian post partum (nifas)
2.      Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan klasifikasi dari nifas
3.      Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan perawatan nifas
4.      Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan perubahan yang terjadi pada masa nifas
5.      Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengertian sectio caesaria
6.      Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan teknik sectio caesaria
7.      Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan indikasi sectio caesaria
8.      Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan jenis operasi sectio caesaria
9.      Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan komplikasi sectio caesaria
10.  Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan persiapan pra bedah sectio caesaria
11.  Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan persiapan pasca bedah sectio caesaria
12.  Mahasiswa mampu membuat Path way ( WOC ) sektio caesaria
13.  Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan sectio caesaria






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Konsep Medis
1.      Konsep post partum
a.       Pengertian Post Partum (Nifas)
Masa Nifas (puerpurium) adalah masa pulihnya kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat – alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifas yaitu 6-8 minggu (Mochtar, 2001:115)
Masa Nifas (puerpurium) dimulai setelah placenta lahir dan berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil,berlangsung selama kira – kira 6 minggu (Prawirohardjo, 2009:237)
Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar enam minggu (Farrer, 2001:36).
b. Pembagian nifas di bagi 3 bagian, yaitu :
1. Puerperium Dini
Pemulihan dimana ibu di perbolehkan berdiri dan berjalan. Dalam agama Islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2. Puerperium Intermedial
Pemulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
3. Remote Puerperium
Yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu, bulan atau tahunan.
c. Perubahan-Perubahan yang terjadi selama post partum (Nifas)
1. Uterus
Involusi uterus melibatkan peng-reorganisasian dan pengguguran decidua atau endometrium serta pengelupasan situs placenta sebagaimana diperlihatkan (Varney, 2004:252).
Segera setelah kelahiran bayi, placenta dan membran, beratnya adalah kira-kira 1100 gram dengan panjang kira-kira 15 cm, lebar 12 cm, serta 8 sampai 10 cm tebalnya. Ukuran itu adalah kira-kira dua atau tiga kali ukuran uterus non hamil, multipara. 
Uterus berkurang beratnya sampai menjadi kira-kira 500 gram pada akhir minggu pertama post partum, 300 gram sampai 350 gram pada akhir minggu kedua, 100 gram pada akhir minggu keenam, dan mencapai berat biasa non hamil 70 gram pada akhir minggu kedelapan post partum. 
Segera setelah kelahiran, bagian puncak dari fundus akan berada kira-kira dua pertiga sampai tiga perempat tingginya diantara shympisis pubis dan umbilicus. 
Fundus ini kemudian akan naik ketingkat umbilicus dalam tempo beberapa jam. Ia akan tetap berada pada kira-kira setinggi (atau satu jari lebarnya di bawah) umbilicus selama satu, dua hari dan kemudian secara berangsur-angsur turun ke pinggul, kemudian menjadi tidak dapat dipalpasi lagi bila di atas symhisis pubis setelah hari ke sepuluh (Varney, 2004:252).
2. Involusi tempat plasenta
Ekstrusi lengkap tempat plasenta perlu waktu sampai 6 minggu. 
Proses ini mempunyai kepentingan klinik yang amat besar, karena kalau proses ini terganggu, mungkin terjadi pendarahan nifas yang lama. Segera setelah kelahiran, tempat plasenta kira-kira berukuran sebesar telapak tangan, tetapi dengan cepat ukurannya mengecil. Pada akhir minggu kedua, diameternya 3 sampai 4 cm. 
Segera setelah berakhirnya persalinan, tempat plasenta normalnya terdiri dari banyak pembuluh darah yang mengalami trombosis yang selanjutnya mengalami organisasi trombus secara khusus.
3. Pembuluh darah uterus
Di dalam uterus sebagian besar pembuluh darah mengalami obliterasi dengan perubahan hialain, dan pembuluh yang lebih kecil tumbuh ditempat mereka. 
Reasorbsi residu yang mengalami hialinisasi diselesaikan dengan proses yang serupa dengan yang di temukan di ovarium setelah ovulasi dan pembentukan korpus luteum. Tetapi sisa-sisa kecil tetap ada selama bertahun-tahun, yang dibawah mikroskop memberikan cara untuk membedakan antara uterus wanita multipara dan nullipara.
4. Lochia
Lochia adalah nama yang diberikan pada pengeluaran dari uterus yang terlepas melalui vagina selama masa nifas (Varney, 2004:253).
Pengeluaran Lochia dapat dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya sebagai berikut :
1). Lochia Rubra
1 sampai 3 hari berwarna merah dan hitam
Terdiri dari sel decidua, verniks kaseosa, rambut, sisa mekonium, sisa darah
2). Lochia Sanguinolenta
3 sampai 7 hari
Berwarna putih bercampur merah
3). Lochia Serosa
7 sampai 14 hari
Berwarna kekuningan
4). Lochia Alba
Setelah hari ke 14
Berwarna putih
5. Vagina dan Perineum
Segera setelah persalinan, vagina dalam keadaan menegang dengan disertai adanya edema dan memar, dengan keadaan masih terbuka. 
Dalam satu atau dua hari edema vagina akan berkurang. Dinding vagina akan kembali halus, dengan ukuran yang lebih luas dari biasanya. 
Ukurannya akan mengecil dengan terbentuk kembalinya rugae, pada 3 minggu setelah persalinan. Vagina tersebut akan berukuran sedikit lebih besar dari ukuran vagina sebelum melahirkan pertama kali. Meskipun demikian latihan untuk mengencangkan otot perineum akan memulihkan tonusnya (Varney, 2004:254).
6. Payudara
Konsentrasi hormon yang menstimulasi perkembangan payudara selama wanita hamil, (estrogen, progesteron, human chorionic gonadotropin, prolaktin, kortisol, dan insulin) menurun dengan cepat setelah bayi lahir. Waktu yang dibutuhkan hormon-hormon ini untuk kembali ke kadar sebelum hamil sebagian ditentukan oleh apakah ibu menyusui atau tidak.
7. Tanda-Tanda Vital
Tekanan darah biasanya stabil dan normal, temperatur biasanya kembali normal dari kenaikannya yang sedikit selama periode melahirkan dan menjadi stabil dalam 24 jam pertama setelah melahirkan. Denyut nadi biasanya normal kecuali bila ada keluhan persalinan yang lama dan sulit atau kehilangan banyak darah (Varney, 2004:254).
8. Perubahan Sistem Ginjal
Pelvis ginjal dan ureter yang berdilatasi selama kehamilan, kembali normal pada akhir minggu setelah melahirkan. 
Segera setelah melahirkan kandung kemih tampak bengkak, sedikit terbendung, dapat hipotonik, dimana hal ini dapat mengakibatkan overdistensi, pengosongan yang tidak sempurna dan adanya sisa urin yang berlebihan kecuali bila diambil langkah-langkah yang mempengaruhi ibu untuk melakukan buang air kecil secara teratur meskipun pada saat wanita itu tidak mempunyai keinginan untuk buang air kecil. Efek dari trauma selama persalinan pada kandung kemih dan ureter akan menghilang dalam 24 jam pertama setelah melahirkan (Varney, 2004:255).
9. Kehilangan Berat Badan
Seorang wanita akan kehilangan berat badannya sekitar 5 kg pada saat melahirkan. Kehilangan ini berhubungan dengan berat bayi, placenta dan cairan ketuban. Pada minggu pertama post partum seorang wanita akan kehilangan berat badannya sebesar 2 kg akibat kehilangan cairan (Varney, 2004:255).
10. Dinding Abdomen
Strie abdominal tidak bisa dilenyapkan sama sekali akan tetapi mereka bisa berubah menjadi garis-garis yang halus berwarna putih perak (Varney, 2004:255).
Ketika miometrium berkontraksi dan berektrasi setelah kelahiran dan beberapa hari sesudahnya, peritonium yang membungkus sebagian besar uterus dibentuk menjadi lipatan-lipatan dan kerutan-kerutan. Ligamentum latum dan rotundum jauh lebih kendor daripada kondisi tidak hamil, dan mereka memerlukan waktu cukup lama untuk kembali dari peregangan dan pengendoran yang telah dialaminya selama kehamilan tersebut.
11. Perubahan Hematologis
Leukositosis yang meningkatkan jumlah sel-sel darah putih sampai sebanyak 15.000 semasa persalinan, akan tetap tinggi selama beberapa hari pertama dari masa post partum. Jumlah sel-sel darah putih tersebut masih bisa naik lagi lebih tinggi sampai 25.000 atau 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan lama. Jumlah hemoglobin, hematokrit dan erytrocyte akan sangat bervariasi pada awal-awal masa nifas sebagai akibat dari volume darah, volume plasma dan tingkat volume sel darah yang berubah-ubah (Varney, 2004:256).
12. Sistem Endokrin
1). Hormon Plasenta
Selama periode pascapartum, terjadi perubahan hormon yang besar. Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan signifikan hormon-hormon yang diproduksi oleh organ tersebut. Penurunan hormon Human Placcental Lactogen (HPL), estrogen dan kortisol, serta placental enzyme insulinase membalik efek diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah menurun secara yang bermakna pada masa puerperium.
2). Hormon Hipofisis dan Fungsi Ovarium
Waktu dimulainya ovarium dan menstruasi pada wanita menyusui berbeda. Kadar prolaktin serum yang tinggi pada wanita menyusui tampaknya berperan dalam menekan ovulasi. Karena kadar Follicle-Stimulating Hormone (FSH) terbukti sama pada wanita menyusui dan tidak menyusui, dismpulkan ovarium tidak berespons terhadap stimulasi FSH kadar prolaktin meningkat.
13. Sistem Urinarius
Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi) turut menyebabkan peningkatan fungsi ginjal, sedangkan penurunan kadar steroid setelah wanita melahirkan sebagian menjelaskan sebab penurunan fungsi ginjal selama masa pascapartum. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Diperkirakan 2 sampai 8 minggu mengalami hipotonia pada kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali ke keadaan sebelum hamil. Pada sebagian kecil wanita, dilatasi traktus urinarius bisa menetap selama tiga bulan.
14. Sistem Cerna
1). Nafsu Makan
Ibu biasanya setelah melahirkan diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan ringan dan setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anesthesia, dan keletihan, kebanyakan ibu merasa sangat lapar. Permintaan untuk memperoleh makanan dua kali dari jumlah yang biasa dikonsumsi disertai konsumsi camilan yang sering-sering ditemukan.
2). Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anesthesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.
3). Defekasi
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum, ibu biasanya merasakan nyeri diperinium akibat episiotomi, laserasi, atau hemoroid. Kebiasaan buang air besar yang teratur perlu dicapai kembali setelah tonus usus kembali normal.
15. Sistem Kardiovaskuler
1). Volume Darah
Perubahan volume darah tergantung pada beberapa faktor, misalnya kehilangan darah selama melahirkan dan mobilisasi serta pengeluaran cairan ekstravaskuler (edema fisiologis).
2). Curah jantung
Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat sepanjang masa hamil. Segera setelah wanita melahirkan, keadaan ini akan meningkat bahkan lebih tinggi selama 30 sampai 60 menit karena darah yang biasanya melintas sirkuit etoroplasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum.
16. Varises
Varises di tungkai dan di sekitar anus (hemoroid) sering dijumpai pada wanita hamil. Varises, bahkan varises vulva yang jarang dijumpai, akan mengecil dengan cepat setelah bayi lahir. Operasi varises tidak dipertimbangkan selama masa hamil. Regresi total atau mendekati total diharapkan terjadi setelah melahirkan (Varney, 2004:156).
d.      Perawatan post partum (Nifas)
1). Pengawasan Kala IV, 1 jam pertama dari nifas meliputi pemeriksaan plasenta supaya tidak ada bagian-bagian plasenta yang tertinggal, pengawasan tingginya fundus uteri, pengawasan perdarahan dari vagina, pengawasan konsistensi rahim, pengawasan keadaan umum ibu.
2). Early ambulation, Kebijaksanaan untuk selekas mungkin membimbing penderita keluar dari tempat tidurnya dan membimbingnya selekas mungkin untuk berjalan.
3). Karena lelah habis persalinan, ibu harus istirahat, tidur terlentang, selama 8 jam pasca persalinan, kemudian boleh miring ke kanan dan ke kiri untuk mencegah terjadinya trombosi dan tromboemboli. Pada hari ke-2 diperbolehkan duduk, hari ke-3 jalan-jalan, dan hari ke-4 atau ke-5 sudah diperbolehkan pulang.
4). Mobilisasi tersebut bervariasi bergantung pada komplikasi persalinan, nifas, dan sembuhnya luka-luka. Kini perawatan perenium lebih aktif dengan dianjurkan “ Mobilisasi Dini ” (early mobilitation), perawatan ini mempunyai keuntungan:
5). Memperlancar pengeluaran lochea, mengurangi infeksi nifas.
6). Mempercepat involusi alat kandungan.
7). Meningkatkan kelancaran peredaran darah sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.

2.      Konsep sectio caesaria
a.       Pengertian
Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina; atau suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim. (Mochtar,1998)
Seksio sesarea adalah kelahiran janin melalui jalur abdominal (laparotomi) yang memerlukan insisi ke dalam uterus (histerotomi). (Norwitz,Schorge ; 2008)
b.      Teknik Seksio sesaria
1). Seksio sesarea primer (efektif)
Dari semula telah direncanakan janin akan dilahirkan secara Seksio sesarea, tidak diharapkan lagi kelahiran biasa. Misalnya pada panggul yang sempit (CV kecil dari 8 cm)
2). Seksio sesarea sekunder
Dalam hal ini kita bersikap mencoba menunggu kelahiran biasa (partus percobaan), bila tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal, baru dilakukan Seksio sesarea.
3). Seksio sesarea ulang (repeat caesarean section)
Ibu pada kehamilan yang lalu mengalami Seksio sesarea (previous caesarean section) dan pada kehamilan selanjutnya dilakukan Seksio sesarea ulang.
4). Seksio sesarea Histerektomi (Caesarean section hysterectomy)
Adalah suatu operasi dimana setelah janin dilahirkan dengan seksio sesarea, langsung dilakukan histerektomi oleh karena suatu indikasi.
5). Operasi Porro (Porro Operation)
Adalah suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri (tentunya janin sudah mati), dan langsung dilakukan histerektomi, misalnya pada keadaan infeksi rahim yang berat.
6). Seksio sesarea pastmortem (postmortem caesarean section)
Adalah Seksio sesarea segera pada ibu hamil cukup bulan yang meninggal tiba-tiba sedangkan janin masih hidup.
c.    Indikasi

Absolut
Relatif
Ibu
§  Induksi persalinan yang gagal
§  Proses persalinan yang tidak maju (distosia persalinan)
§  Disproporsi sepalopelvik
§  Bedah sesar elektif berulang
§  Penyakit ibu (pre-eklamsi berat, penyakit jantung, diabetes, kanker serviks)
Uteroplasenta
§  Bedah uterus sebelumnya (sesar klasik)
§  Riwayat rupture uterus
§  Obstruksi jalan lahir (fibroid)
§  Plasenta previa, abruption plasenta berukuran besar
§  Riwayat bedah uterus sebelumnya (miomektomi dengan ketebalan penuh)
§  Presentasi funik (tali pusat) pada saat persalinan
Janin
§  Gawat janin/hasil pemeriksaan janin yang tidak meyakinkan
§  Prolaps tali pusat
§  Malpresentasi janin (posisi melintang)
§  Malpresentasi janin (sungsang, presentasi alis, presentasi gabungan)
§  Makrosomia
§  Kelainan janin (hidrosefalus)
           
d.   Jenis Operasi Sectio Caesarea
a.       Abdomen (Seksio sesarea abdominalis)
Seksio sesarea transperitonealis :
1.      Seksio sesarea klasik (corporal)
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira- kira 10 cm.
Kelebihan :
a.       Mengeluarkan janin lebih cepat
b.      Tidak mengakibatkan kandung kemih tertarik
c.       Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan :
a.       Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada reperitonealisasi yang baik.
b.      Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan.
2.      Seksio sesarea ismika (profunda)
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang-konkaf pada segmen bawah rahim (low cervical transversal) kira-kira 10 cm.
Kelebihan :
a.       Penjahitan luka lebih mudah
b.      Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik
c.       Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum
d.      Perdarahan kurang
e.       Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan rupture uteri spontan kurang / lebih kecil.
Kekurangan :
a.       Luka dapat melebar ke kiri, kanan, dan bawah, sehingga dapat menyebabkan arteri uterine putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak
b.      Keluhan pada kandung kemih post operatif tinggi.   
3.      Seksio sesarea ekstraperitonealis
Tanpa membuka peritoneum  parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum abdominal.
b.      Seksio sesarea vaginalis
e.    Komplikasi
                                    1.      Infeksi puerperal (Nifas)
a). Ringan : dengan kenaikan suhu beberapa hari saja
b). Sedang : dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung
c). Berat : dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering kita jumpai pada partus terlantar, dimana sebelumnya tekah terjadi infeksi intrapartal karena ketuban yang telah pecah terlalu lama.
Penanganannya adalah dengan pemberian cairan, elektrolit dan antibiotika yang adekuat dan tepat.
                                    2.      Perdarahan, disebabkan karena :
a). darah yang terputus dan terbuka
b). Atonia uteri
c). Perdarahan pada placental bed
                                    3.      Cedera pada janin
                                    4.      Cedera pada organ di dekat uterus (usus, kandung kemih, ureter, pembuluh darah)
                                    5.      Infeksi
                                    6.      Kemungkinan rupture uteri spontan pada kehamilan mendatang
f.     Pertimbangan teknis
a).    Bedah sesar elektif dapat dilakukan setelah usia gestasi 39 minggu
b).    Analgesik regional lebih disukai daripada analgesic umum
c).    Penggunaan antibiotic profilaktik rutin akan mengurangi insidensi kesakitan yang berkaitan dengan demam pascaoperasi
d).   Insisi kulit dapat dilakukan secara pfannenstiel (insisi tranversal bawah yang bersifat memisahkan otot, kuat, tetapi bukaannya terbatas), vertical digaris tengah (membeberikan bukaan terbaik, tetapi lemah), atau paramedian (insisi vertical di sebelah lateral otot rektus, jarang digunakan). Insisi pfannenstiel kadang – kadang (tetapi jarang) dimodifikasi untuk memperluas bukaan dengan cara membuka otot rektus secara horizontal (insisi maylard) atau pengangkatan rektus dari tulang pubis (insisi cherney)
e).    Pembedahan elektif (seperti miomektomi) tidak boleh dilakukan pada saat sesar karena adanya resiko perdarahan.     
g.    Perawatan Pra bedah
a.    Kelompok dengan keadaan umum masih baik
1)        Pra bedah : lakukanlah evaluasi terakhir status obstetric pendrita janin
2)        Lakukan persiapan penunjang diagnosis yang diperlukan sesuai dengan keadaan penderita dan jenis operasi yang dilakukan :
-        Pemeriksaan lab : urine,darah,dsb
-        Pemeriksaan rontgen bila ada indikasi
-        Pemeriksaan USG
3)        Konsultasi dengan dokter ahli lain terutama dengan dokter ahli anak bila memang diperlukan
b.    Kelompok dengan keadaan umum kurang baik
1)        Partus terlantar
-        Berikan infuse cairan larutan garam fisiologis/ larutan glukosa 5-10% dan jam pertama sebanyk 1liter perjam, dilanjutkan sesuai dengan keperluan
-        Injeksi intra muscular kortison asetat
-        Injeksi intramuscular streptomisin 1gr
-        Injeksi prokain penicillin intramuscular
-        Istirahat selama 1 jam sambil melakukan observasi keadaan kemajuan persalinan kecuali bila ada indikasi yang memerlukan tindakan segera.
2)        Kasus-kasus perdarahan
-        Pemeriksaan Hb, golongan darah, dan penyediaan darah
-        Pemberian cairan infuse dan tranfusi darah
3)        Pre eklamsi berat dan eklamsi
-        Memerlukan perawatan khusus
h.    Persiapan pra bedah
1.    Menerangkan kepada penderita dan keluarga alas an dilakukan operasi untuk melahirkan janin dan memeberikan pengertian serta kekuatan mental kepada mereka dalam menghadapi keadaan ini.
2.    Penanda tanganan surat persetujuan penderita dan keluarga
3.    Pengosongan kandung kencing
4.         Pengosongan isi rectum sedangkan pada plasenta previa tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan perdarahan
5.         Mencukur  rambut daerah pubis dan rambut daerah perut
6.         Memasang infus
i.      Perawatan paska bedah
a.          Perawatan luka insisi
Luka insisi dibersihkan dengan larutan betadine kemudian ditutup kasa. Secara periodic penbalut luka diganti dan luka dibersihkan. Diperhatikan kondisi luka ada pus atau tidak
a)        Perawatan luka dengan eksudat
-       Luka dengan sedikit eksudat ditutup dengan band-aid operatif dressing
-       Luka dngan eksudat sedang ditutup dengan regal filmatid swabs atau dengan pembalut luka lainnya
-       Luka dengan eksudat banyak ditutup dengan surgipad atau dikompres dengan cairan betadine
-       Untuk memberikan kenyamanan dan kebebasan bergerak bagi penderita sebaiknya dipakai gurita
b)        Komplikasi luka insisi
-       Sebagian luka sembuh dan tertutup baik, sebagian lagi dengan eksudat dengan jumlah sedang atau banyak dan keluar melalui lubang-lubang (fistel) dan terinfeksi
-       Luka terbuka sebagian, bernanah dan terinfeksi
-       Luka terbuka seluruhnya dan usus kelihatan dan keluar
b.         Pemberian cairan
Karena selam 24 jam pertama penderita puasa, maka pemberian cairan per infuse harus cukup banyak dan mengandung elektrolit yang dibutuhkan agar jangan terjadi hipertermi, dehidrasi dan komplikasi pada organ-organ tubuh lain. Cairan yang diberikan biasanya dekstrosa 5-10% dengan 20 tpm
c.          Diet
Setelah penderita flatus, dimulai dengan pemberian minuman per oral
d.         Nyeri
Untuk mengurangi nyeri pasca operasi dapat diberikan obat-obatan anti sakit dan penenang, ex : petidin 100-150 mg/ morfin 10-15 mg
e.          Mobilisasi
Dilakukan tahap demi tahap untuk membantu jalannya penyembuhan penderita. Miring kiri dan kee kanan dapat di mulai sejak 6-10 jam setelah penderita sadar. Hari ke 2 dapat dilatih duduk selanjutnya hari demi hari penderita dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan dan kemudian belajar sendiri pada hari ke 3 pasca bedah.
f.          Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri yang tidak enak pada penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Karena itu di anjurkan pemasangan kateter tetap : douer kateter/ balon kateter yang terpasang selama 24 jam, sampai 48 jam atau lebih lama lagi, tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.
g.         Perwatan Rutin
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan dan pengukuran adalah :
-            Tekanan darah, nadi, respirasi, suhu
-            Jumlah cairan masuk dan keluar (urine)
-            Pemeriksaan lainnya menurut jenis operasi dan kasus
h.      Health education pasca operasi
a). Dianjurkan jangan hamil selama kurang lebih 1 tahun, dengan memakai kontrasepsi
b). Kehamilan berikutnya hendaknya diawasi dengan ANC yang baik
c). Dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit yang besar
d). Apakah persalinan berikutnya harus SC bergantung dari indikasi section dan keadaan kehamilan berikutnya
e). Yang dianut adalak sekali section, tidak selamanya SC kecuali pada panggul sempit/ disproporsi sevalo-pelvik











B.     Konsep Keperawatan
1.      Pengkajian
a.  Anamnesa
1.      Identitas Klien
Bisa terjadi pada primigravida maupun multigravida dengan indikasi panggul sempit dan resiko tinggi kehamilan yang lain
2.      Keluhan Utama
Umumnya pasien mengalami nyeri yang sangat kuat dan bertahan lama akibat adanya proses persalinan yang lama
3.      Riwayat Penyakit Sekarang
Adanya keluhan seperti hiperemesis gravidarum, pre eklamsi, plasenta previa, ketuban pecah dini.
4.      Riwayat kesehatan dahulu
Rupture uterus, riwayat SC sebelumnya, hipertensi, kanker servik, penyakit jantung, diabetes melitus
5.      Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat kesehatan keluarga tidak mempengaruhi tindakan seksio sesaria pada ibu
6.      Pola fungsi kesehatan
a)         Pola persepsi dan tata laksana kesehatan
Pada ibu yang sudah memiliki riwayat sectio sesaria tingkat kecemasannya rendah sedangkan pada ibu hamil yang pertama kali mengalami SC tingkat kecemasannya cukup tinggi.
b)        Pola nutrisi
a. Nafsu makan umumnya menurun, mual muntah +, konsumsi air putih dikurangi pada hari ke-0 op sampai pasien dapat flatus, 
b. ibu post op dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan berprotein tinggi dan bergizi cukup untuk membantu pemulihan luka insisi
c)         Pola eliminasi
Mengalami gangguan eliminasi urin akibat ketakutan ibu terhadap nyeri yang akan timbul
d)        Pola aktivitas dan kebersihan diri
Aktifitas ibu menurun akibat adanya tindakan seksio sesaria
e)         Pola istirahat tidur
Frekuensi tidur ibu berubah, ibu mengalami gangguan pola tidur dan istirahat.
f)         Pola kognisi dan persepsi sensori
Kesadaran ibu komposmentis, ibu merasakan nyeri pada daerah abdomen.
g)        Pola konsep diri
Sikap diri ibu baik, ibu merasa takut karena akan ada bekas luka pada daerah abdomen.
h)        Pola hubungan peran
Ibu bergantung pada keluarga karena ibu merasa tidak berdaya.
i)          Pola seksual dan seksualitas
Ibu merasa takut berhubungan seksual karena adanya nyeri akibat dari luka seksio sesaria.
j)          Pola mekanisme koping
Pada ibu yang mempunyai riwayat seksio sesaria maka mekanisme kopingnya lebih baik dari pada ibu yang pertama kali mengalami seksio sesarea.

b.      Pemeriksaan Fisik
a.)      Keadaan umum: ibu post partum SC mengalami kondisi fisik lemah serta kesadaran umumnya compos metis.
b.)      Head to toe
1.      Payudara
Inspeksi : simetris ka/ki, puting susu menonjol, ASI keluar sedikit-sedikit, areola menghitam
Palpasi : tidak ada nyeri tekan dan tidak ada masa
2.      Abdomen
Inspeksi : terlihat luka operasi yang masih tertutup perban, kondisi perban bersih dan tidak berbau
Palpasi : adanya nyeri tekan, TFU dua jari dibawah pusar, konsistensi keras
Auskjultasi : bising usus positif, peristaltic usus positif
3.      Genitalia
Adanya nyeri tekan, perineum tidak kemerahan, tidak ada udem vulva, bercak pendarahan positif namun tidak terlalu banyak, perdarahan warna merah kehitaman
Kepala: rambut hitam, bergelombang, kulit kepala utuh, tidak terdapat lesi, bersih.
c.       Pemeriksaan penunjang
Radiologi :
1.      CT Scan
2.      USG

2.      Diagnose Keperawatan
a.       Kekurangan volume cairan y.b.d. perdarahan operasi.
b.      Resiko infeksi y.b.d. luka insisi abdomen.
c.       Nutrisi  kurang dari kebutuhan tubuh y.b.d. efek anastesi ditandai dengan mual dan muntah.
d.      Cemas y. b. d kurangnya pengetahuan
3.      Intervensi
No
Diagnosa
Kriteria hasil
Intervensi
1
Kekurangan volume cairan y.b.d. perdarahan operasi
Menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan TTV stabil, turgor kulit baik, membran mukosa lembab.
1. kaji TTV, takikardi
2. berikan cairan sesuai indikasi
3. pantau adanya perdarahan
2
Resiko infeksi y.b.d. luka insisi abdomen
Tidak terdapatnya tanda-tanda peradangan (tumor, rubor, kalor, dolor, funtio laesa) pada bekas insisi abdomen.
1. observasi ketat TTV, peningkatan suhu
2. kolaborasi pemberian antimikroba bila diperlukan.
3. HE: mobilitas dini sesuai kemampuan.
3.
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh y.b.d. efek anastesi d.d.  mual muntah
Nutrisi yang adekuat; menunjukkan peningkatan nafsu makan.
1. berikan makanan sedikit tapi sering ( makanan lunak, tidak berbau tajam )
2. posisi semi fowler pada waktu makan.
3. anjurkan pasien untuk ngemil.

4.      Implementasi
a.         Mengkaji TTV untuk mengetahui ada atau tidaknya tanda peradangan.
b.         Menganjurkan pasien untuk memobilisasi sesuai kemampuan.
c.         Memantau adanya perdarahan pada intra op
d.        Memposisikan pasien semi fowler pada waktu makan.
5.      Evaluasi
a.         Kebutuhan cairan pasien terpenuhi ditunjukkan dengan turgor kulit baik, TTV stabil, tidak terdapat takhikardi.
b.         Tidak terdapatnya tanda-tanda peradangan pada bekas luka insisi abdomen.
c.         Nutrisi pasien adekuat dengan peningkatan nafsu makan.















BAB III
                                              PENUTUP
Kesimpulan
a.         Masa Nifas (puerpurium) adalah masa pulihnya kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat – alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifas yaitu 6-8 minggu (Mochtar, 2001:115)
b.         Pembagian nifas di bagi 3 bagian, yaitu :
1. Puerperium Dini
Pemulihan dimana ibu di perbolehkan berdiri dan berjalan. Dalam agama Islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2. Puerperium Intermedial
Pemulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
3. Remote Puerperium
Yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu, bulan atau tahunan.
c.         Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina; atau suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim. (Mochtar,1998)
1.    Jenis Operasi Sectio Caesarea
a.       Abdomen ( sektio sesarea abdominalis )
b.      Vagina ( sektio sesarea vaginalis )
2.    Komplikasi sectio Caesarea
a.       Perdarahan, disebabkan karena darah yang terputus dan terbuka.
b.      Atonia uteri
c.       Cedera pada janin
d.      Cedera pada organ didekat uterus ( bladder, ureter ).

DAFTAR PUSTAKA


Carpenito, L.J. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC. Jakarta

Carpenito, L. J. 1998. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis. Edisi 6. EGC. Jakarta

Farrer, H. 2001. Perawatan Maternitas. Edisi 2. EGC. Jakarta

http://www. Us elsevierhealth. com. Nursing diagnoses. Outcomes and interventions

NANDA. 2001. Nursing Diagnoses: Definitions & Classification. Philadelphia

Sarwono, P. 1994. Ilmu Kebidanan. Balai Penerbit UI. Jakarta

Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Tridasa. Jakarta

0 komentar:

Poskan Komentar